Semakin hari silih berganti, kelas gue di SMA semakin menjadi-jadi. Semua murid disana “freak” abis, kecuali cewe gue. Banyak kejadian yang sengaja dilakukan oleh pada grup-grup onar di kelas gue. Ada seorang murid bandel, panggil saya Riky. Riky itu adalah anak yang cukup bikin sekelas risih, dia emang biang nya onar. Setiap hari datang dengan jaket hitam nya dan kemudian kerjaan nya dikelas itu hanya meledeki anak-anak cewe. Entah apa yang dia lakukan, namun dia selalu berkata bahwa apa yang sedang ia lakukan itu adalah hal yang benar.
Begitu juga anak yang lain. Semua anak-anak cowo yang kurang paham arti sosialisasi, selalu bersikap seronok. Misalnya bercanda saat guru menerangkan pelajaran, berkata kotor ke semua murid, dan nantangin buat berantem. Gue termasuk orang yang pendiem di kelas, karena kerjaan gue cuma duduk disebelah pacar gue dan belajar sambil tersenyum-senyum memandangi cewe gue. Gue ikut juga menjadi korban ke-jahilan para anak-anak bandel di kelas, contoh : saat gue baru membeli sebuah pulpen. Di kelas suasana nya bagaikan di dalam kandang singa yang sedang kelaparan, kenapa, karena bila seseorang mempunyai alat-alat pelajaran baru, dikelas lah alat-alat pelajaran baru bersebut wafat. Sering juga anak-anak pembuat onar itu melecehkan seorang murid, panggil saja murid itu bernama Tono. Si Tono ini memang terlihat sedikit aneh dan juga terlihat seperti orang yang ga pernah minum air keran (nyambung). Tono itu kerjaan nya selalu menjadi bulan-bulanan anak bandel di kelas, contoh : selalu di panggil sebagai banci gendut dengan pantat yang abis di suntik silikon sebanyak seratus kali, karena ya memang sih pantat nya sedikit biggest dan mengembang seperti kue bolu yang abis di panggang. Tapi gue ngerasa dia itu perlu di beri kasih sayang sedikit, karena gue juga ga tega ngeliat dia dilecehkan sampe-sampe saat sholat Ashar di sekolah aja, tali sepatunya di umpetin, entah oleh anak-anak di kelas gue, ataupun anak-anak jail lainnya. Sungguh anak yang sangat malang sekali. Tapi sebenarnya, Tono itu anak nya super asyik. Saat lagi main sebuah permainan yag nama nya “ABCD lima dasar” bareng gue dan pacar gue, dia itu super lucu. Dan saat itu, permainan tersebut terhenti di huruf ‘D’, nah kemudian gue membuat pertanyaan. “Tono sehabis mandi, biasanya ngapain?”, kemudian cewe gue menjawab “Duduk-duduk”, dan saat Tono menjawab, semua tertawa terpingkal-pingkal, karena jawabannya itu kurang logis dan dengan nada yang sedikit mendesah : “Dadahin Banci”. Oh my god, bayangkan (versi ustadz yang ada di TV) sesudah mandi, seseorang masih sempet-sempetnya ‘dadahin banci’, apakah ga ada hal yang logis seperti ganti baju, semprotin minyak wangi, atau pun cukur kumis.
Pernah sewaktu saat, di kelas gue ada yang berulang tahun, panggil lah yang berulang tahun itu Tina. Nah si Tina ini diberi surprise oleh anak-anak cewe, gue pun masih inget akan hal itu, ya karena memang yang membeli kue ulang tahun nya itu gue sama pacar gue yang menyempatkan waktu nya ke supermarket deket rumah gue. Walaupun kue nya itu sederhana dan gue juga belum sempet nyobain apakah rasa nya itu seperti kue buatan Farah Quinn ataukah buatan Bu RT kampung yang suka lupa membedakan mana garam dan gula, sehingga saat ada acara makan-makan di kampung, semua warga terlihat seperti orang yang habis makan pasir laut yang super asin.
Sekolah sekarang sungguh berbeda dengan sekolah di zaman dulu. Pernah gue di ceritakan oleh seorang guru SD dulu, panggil saja guru itu ibu Neni. Bu Neni itu adalah guru bahasa sunda gue di SD, dan entah kenapa dia itu gagal mendidik gue sepertinya, faktanya gue ini lemah dan bego di pelajaran bahasa sunda. Jelas-jelas gue itu orang Bogor yang mestinya itu bisa berbahasa sunda dengan paseh, nyatanya udah kaya orang yang berada di kalangan anak-anak pantai yang memiliki bahasa uuaauauaua entah itu bahasa apa, gue ngasal. Nah si Bu Neni ini bercerita tentang masa-masa dia sekolah dulu, berarti belum ada blackberry ataupun jambul katulistiwa. “orang-orang dahulu itu belajar sangat lah sulit, harus memiiliki tekad yang sangat kuat, karena pada zaman penjajahan, buku tulis pun belum ada sama sekali, ada tapi hanya di pakai untuk kepentingan pemerintah dahulu, sehingga para pelajar dulu, menulis dengan menggunakan plastik putih yang sudah kusam karena keseringan di pakai dan di hapus menggunakan lap basah. Seharus nya kalian yang belajar di zaman super canggih sekarang ini bersyukur, karena fasilitas semua memadai” ujar Bu Neni saat itu. Setelah mengingat itu, gue sendiri berfikir, bahwa sekarang itu waktunya untuk membangkitkan semua pelajar dari kebodohan. Namun nyata nya, banyak sekali pelajar yang malah membangun kebodohan dengan hal-hal negatif. Dikelas gue contoh nya. Udah banyak banget yang melakukan hal-hal yang menjengkelkan dan penuh dengan sikap-sikap negatif, sehingga guru-guru semua selalu terasa kesal atas sikap kelas gue ini. Mungkin gue juga termasuk anak yang badung di kelas, sering bengong tidak memperhatikan pelajaran, kalau ada persentasi selalu berkata ngawur, dan berdongeng yang malah nyambung ke musik cherrybelle, masih banyak sikap konyol gue di sekolah.
Kadang sekolah pun suka membuat peraturan yang tidak gue ngerti, contohnya rambut. Razia rambut dilakukan agar mendidik anak menjadi anak yang disiplin, tapi setelah murid-murid mencukur rambut nya menjadi pendek, tetep saja disalahkan hanya karena gaya potongan rambutnya yang kaya jalan tol ketombe (skin). Entah apa nyambungnya rambut dengan kedisiplinan, coba kalian lihat mahasiswa yang memiliki rambut panjang, mereka tidak pernah kena razia rambut, ataupun di potong masal ditengah lapangan kampus dan menangis-nangis histeris “ampuuuuun ibuuuu, jangan potong rambut saya, ini warisan dari zaman Teuku Umar” kebayang aja tuh mahasiswa rambutnya sepanjang apa. Gue pernah liat mahasiswa UPI yang memiliki rambut Gimbal yang otomatis termasuk rambut gondrong, tapi dia ga punya masalah dengan kedisiplinan, dan juga ga sama sekali berpengaruh dengan nilai kuliah nya. Jika mahasiswa yang memiliki rambut gondrong dan dibilang ga disiplin, berarti mahasiswa itu semua orang yang ga bener, dan universitas negeri pun tidak bisa mendidik anak, dan mungkin bisa turun prestasinya hanya karena rambut gondrong. Masalah sepele rambut bisa membuat murid-murid itu merasa tertekan saat sekolah, misalnya ada seorang murid yang pintar, rajin, dan ramah disekolah. Ia lupa mencukur rambutnya dan keesokan harinya ada razia di setiap kelas. Saat murid tersebut masuk kelas, perasaan nya sangat gundah hanya karena rambut, gelisah, risau dan sebagainya, sehingga akhirnya pelajaran yang harus nya dia perhatikan malah terganggu, dan nilai ulangan harian nya pun menjadi turun, dan semua prestasi nya terganggu hanya karena rambutnya yang lupa di cukur. Manusia memang tak pernah lepas dari kata ‘lupa’. Apakah jangan-jangan semua saham barber shop itu udah di beli sama semua guru-guru? Jadi semua murid nya harus selalu mencukur rambut nya, sehingga semua guru pemilik saham barber shop mendapatkan keuntungan yang melimpah.
Tentara, jelas-jelas mereka memang harus merapikan rambutnya. Coba saja ketika terjadi perang, rambut mereka seperti vokalis Reggae. Yang ada peperangan berubah menjadi festival reggae sedunia. Atau pada saat mau berangkat perang, mereka berjejer di salon untuk mencari model potongan Lee Min Hoo saat bermain di Boys Before Flowes. Tentara memiliki rambut rapi itu memang agar tidak menggangu agar memiliki penampilan yang elegan dan gagah. Berbeda dengan anak pelajar, murid-murid di eropa tidak pernah ada masalah dengan rambutnya saat belajar, mereka pun tak perlu memakai pakaian seragam, dan itu semua tidak dijadikan masalah. Hanya memang seragam itu penting untuk menandakan bahwa seseorang yang memakainya merupakan seorang pelajar.
Intinya semua murid atau pelajar, ingin merasa bebas dan tidak terlalu di ikat dalam peraturan. Namun mereka tetap berada di peraturan yang fleksibel dan tidak terlalu menekan akan kebebasan mereka. Mereka sebenarnya bisa berfikir cemerlang dan kreatif saat diluar sekolah atau saat merasa bebas untuk melakukan apa saja. Tentu saja tetap, pelanggaran-pelanggaran yang bersikap negatif harus selalu diberi sanksi yang setimpal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar